Posted by: SmartSosiologi | January 26, 2011

mitos, apakah sebagai wujud ketidakterlibatan tahap positivis pada masyarakat Indonesia, khususnya Jawa?

MITOS, APAKAH SEBAGAI WUJUD KETIDAKTERLIBATAN TAHAP POSITIVIS PADA MASYARAKAT INDONESIA, KHUSUNYA JAWA?

 

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang syarat dengan keanekaragaman budaya. Adapun pokok-pokok (unsur) dari kebudayaan yaitu: sistem peralatan dan perlengkapan hidup,  sistem mata penceharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem religi. Dalam pembahasan kali ini, kita mengungkap tema mitos sebagai salah satu aspek dari unsur kebudayaan, yaitu sistem religi. Pada masa sekarang ini, mitos masih berkembang pesat dalam masyarakat, kita ambil saja contoh pada masyarakat Jawa. Salah satu faktor berkembangnya mitosdi masyarakat Jawa adalah terbaginya masyarakat Jawa ke dalam 2 kubu secara transparan, yaitu antara masyarakat Islam santri dan Islam kejawen. Masyarakat islam santri adalah masyarakat penganut Islam di jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran dar agamanya. Selanjutnya, islam kejawen adalah masyarakat yang tetap menganut kepercayaan agama tertentu, tetapinjuga masih mempercayai akan adanya hal-hal gaib dan kekuatan akan suatu benda. Adanya masyarakat Islam kejawen seperti inilah yang mendorong perkembangan mitos di tengah kehidupan modern pada saat ini.

Menurut Auguste Comte, seorang founding father Sosiologi menyebutkan ada 3 tahap perkembangan pemikiran manusia, yaitu:

a.       Theologis à akal budi manusia, mencari kodrat dasar manusia, dan percaya pada hal-hal supranatural.

b.      Metafisisà ditandai dengan adanya kepercayaan terhadap hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan oleh akal budi.

c.       Positivistisà ditandai oleh kepercayaan akan data-data empiris terhadap sumber pengetahuan terakhir.

Walaupun Comte telah membagi 3 tahap perkembangan pemikiran manusia, tetapi Comte juga tidak menyangkal bahwa pada masyarakat theologis sekalipun pastilah ada aspek-aspek positivis yang berperan di situ khususnya dalam perkembangan kehidupan sehari-hari, dan sebaliknya bagaimanapun positivis perkembangan pemikiran masyarakat seperti zaman sekarang ini dengan ilmu pengetahuan sebagai sumber utama, pastilah ada aspek-aspek pemikiran theologis yang berperan dalam kehidupan. Seperti itu juga mitos yang ada dalam masyarakat, masyarakat tidak pernah secara sengaja mengembangkan, tetapi begitu saja tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu contoh dari mitos pada masyarakat Jawa adalah kebiasaan (tradisi) selamatan. Selamatan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Selamatan itu tidak terpisahkan dari pandangan alam pikiran partisipasi tersebut di atas, dan erat hubunganya dengan kepercayaan terhadap unsur-unsur kekuatan sakti maupun makhluk-makhluk halus. Sebab hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan-gangguan apapun.

Upacara selamatan sendiri dapat digolongkan ke dalam 4 macam sesuai dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari, yaitu:

a.       Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, seperti hamil 7 bula (mitoni) , kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara menyentuh tanah pertama (tedak siten), dll.

b.      Selamatan yang berkaitan dengan besrih desa, penggarapan tanah pertanian, dan setelah panen padi.

c.       Selamatan sehubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan Islam seperti Sekaten.

d.      Selamatan pada saat-saat yang tidak tentu, berkenaan dengan kejadian-kejadian seperti membuat perjalanan jauh ketika membawa anak kecil, yaitu melempar sesajen disetiap jembatan yang dilewati agar anak terhindar dari bencana, selamatan rumah baru, menolak bahaya (ngruwat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul) dll.

 

Diantara keempat macam selamatan, yang paling diperhatikan dan kerap dilakukan adalah upacara selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, khususnya yang berhubungan dengan kematian, karena orang Jawa sangatlah menghormati arwah orang yang telah meninggal. Sebagai salah satu jalan terbaik untuk menolong keselamatan roh nenek moyang di akhirat adalah dengan membuat berbagai upacara selamatan, antaranya:

  • Sedekah surtanah atau geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang.
  • Sedekah nelung dina, upacara selamatan kematian pada hari ke-3 sesudah meninggal.
  • Sedekah mitung dina, diadakan pada hari ke-7 setelah meninggal.
  • Sedekah matang puluh dina, diadakan pada hari ke-40
  • Sedekah nyatus, diadakan pada hari ke-100 setelah kematian.
  • Sedekah mendak pisan-mendak pindho, masing-masing dilakuakan setelah 1 tahun dan 2 tahun kematian.
  • Sedekah nyewu, diadakan pada saat 1000 hari.
  • Sedekah nguwis-nguwisi, diadakan pada terakhir kali.

 

Selain berbagai upacara keselamatan di atas, masih banyak lagi mitos yang berkembang di masyarakat, misalnya anak gadis tidak boleh berdiri di depan pintu , karena dianggap nantinya akan sulit mendapat jodoh dan menjadi perawan tua, selain itu tidak boleh makan dengan piring diangkat ke atas, karena dianggap nantinya ketika berkeluarga akan banyak menanggung hutang.  Ketika melihat kejadian seperti ini dari segi empiris dan rasionalitas, maka sangat tidak positivis. Yaitu apa hubunganya antara berdiri di depan pintu dengan perawan tua, tentunya sangat susah bahkan tidak mungkin dikaitkan, tetapi inilah mitos yang berkembang di masyarakat sebagai kepercayaan akan sesuatu yang ketika dilihat dari sisi positif dapat diartikan sebagai kontrol sosial dan mengandung filosofi yang konkrit, misalnya ketika kita dilarang berdiri di depan pintu, karena nanti akan menjadi perawan tua, sebenarnya larangan berdiri di depan pintu adalah akan menghalangi orang lain lewat.

Jadi, pada dasarnya mitos tidaklah dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sekalipun suatu masyarakat telah berkembang pada tahapan positivis, karena mitos adalah kepercayaan yang memang telah ditanamkan sejak lahir oleh generasi sebelumnya. Memang pada dasarnya masyarakat zaman sekarang yang selalu didasari oleh kepercayaan akan data empiris, rasionalitas, ilmu pengetahuan yang tinggi, tetaplah mempunyai suatu sisi kehidupan yang religi dan menempatkan suatu kepercayaan khusus terhadap benda, Tuhan, ilmu gaib, dll. Seperti yang dikatakan oleh Comte mengenai agama humanitasnya, bahwa manusia selalu memisahkan kehidupan duniawinya dengan kehidupan religi yang profan.

Jadi, munculnya mitos bukanlah suatu hal akan ketidakterlibatan tahap positivis dalam perkembangan manusia, tetapi memang ada hal-hal tertentu di luar rasionalitas manusia yang ditunjukkan sebagai suatu kepercayaan akan hal-hal tertentu.

 

Sumber :

Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan di indonesia. Jakarta: Djambatan.

Koentjaraningrat. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Penerbit dian Rahayu.

Buku Teori Sosiologi Klasik.

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. lantas bagaimana ne neng???
    untuk menyikapinya?? hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: