Posted by: SmartSosiologi | January 26, 2011

Eksistensi Sosiologi Dalam Menangani Perilaku Menyimpang yang Dilakukan Remaja dengan Teori Labelling Sebagai Faktor Utamanya.

Abad 21 merupakan abad perkembangan yang sangat pesat, dengan globalisasi sebagai subjek utamanya. Konsep globalisasi yang mengaburkan batas-batas negara di dunia membawa homogenisasi di seluruh dunia, baik homogenisasi secara material maupun non material. Selain itu, modernisasi dan westernisasi sebagai induk dari globalisasi mulai terlihat dampaknya khususnya bagi bangsa Indonesia sebagai objek dari globalisasi. Westernisasi sebagai proses peniruan gaya hidup orang barat (Eropa) dan diterapkan di Indonesia sebagai negara timur kian lama kian meresahkan. Nilai dan norma sebagai pegangan hidup yang berkembang di masyarakat tidak lagi menjadi pedoman karena dirasa terlalu ligit dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Ketidakpatuhan terhadap nilai dan norma sebagai control social menimbulkan masalah. Khususnya bagi generasi muda yang memang sedang berada pada tahap pencarian jati diri dan riskan terhadap “masukan-masukan” dari luar dengan kurangnya nilai dan norma sebagai filter.
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh 2 ciri yang berlawanan yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi, dan lain-lain) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Generasi muda biasanya menghadapi masalah social dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang. Tetapi untuk dapat dikatakan dewasa dalam arti social masih diperlukan factor-faktor lainnya. Dari masalah-masalah yang timbul pada generasi muda, ketika kemudian masalah tersebut tidak dapat diselesaikan, maka akan menimbulkan penyimpangan social yang dilakukan sebagai wujud kekecewaan dan karena tidak ada norma yang menjadi pegangan hidup misalnya pergaulan bebas, homoseksual, perampokan, pencurian dan lain-lain bahkan menjurus pada perilaku kejahatan.
Adanya perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sebagai generasi penerus bangsa, tentunya harus mendapat perhatian khusus dalam mengatasinya. Sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji tentang masyarakat dan fenomena social yang ada didalamnya sedikit banyak dapat membantu mengatasi dan mencari tahu tentang perilaku menyimpang yang terjadi dengan berbagai kajian sub disiplin ilmunya, karena sosiologi tidak akan membahas tentang baik buruk dan benar salahnya suatu kejadian, melainkan akan membahas tentang fakta social dari kejadian tersebut. Menurut Ronald A Hordert , perilaku menyimpang adalah sikap tindakan yang melanggar keinginan-keinginan bersama sehingga dianggap menodai kepribadian kelompok yang akhirnya si pelaku dikenai sanksi. Keinginan bersama yang dimaksud adalah system nilai dan norma yang berlaku.
Teori dan Pandangan terhadap Kehidupan Remaja :
1. Teori Differential Association
Teori ini dikembangkan oleh E. Sutherland, menurut perilakunya menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Selanjutnya, menurut Sutherland perilaku menyimpang dapat ditinjau melalui sejumlah proporsi guna mencari akar permasalahan dan memahami dinamika perkembangan perilaku.
a. Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik)
b. Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara langsung dan melalui bahasa isyarat
c. Proses mempelajari perilaku biasanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Dalam keadaan ini biasanya mereka cenderung untuk berkelompok dimana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut, termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok
d. Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari, maka yang dipelajari adalah teknik melakukannya motif atau dorongan serta alasan pembenar termasuk sikap
e. Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dan peraturan hokum
f. Seseorang yang melakukan perilaku menyimpang karena akses dari pola pikir yang lebih mendalam aturan hukum sebagai pemberi peluang dilakukannya penyimpangan

2. Teori Anomie
Teori ini dikemukakan oleh Robert K Merton dan berorientasi pada kelas. Menurutnya, perbedaan kesempatan akibat adanya kelas social menimbulkan frustasi di kalangan masyarakat, sehingga muncul ketidakpuasan, frustasi, konflik, depresi dan penyimpangan periaku muncul sebagai akibat kurangnya atau tidak adanya kesempatan mencapai tujuan.

3. Teori Kenakalan Remaja
Teori ini dikemukakan oleh Albert K. Cohen. Focus perhatian teori ini terarah pada suatu pemahaman bahwa perilaku menyimpang banyak terjadi di kalangan laki-laki kelas bawah yang kemudian membentuk “gang”. Perilaku menyimpang merupakan cerminan dan ketidakpuasan terhadap norma dan nilai kelompok kelas menengah yang cenderung mendominan. Menurut Cohen, para remaja umumnya mencari status tetapi tidak semua remaja dapat melakukannya karena adanya perbedaan dalam struktur social.

4. Teori perbedaan kesempatan
Teori ini dikemukakan oleh Cloward dan Ohlin. Menurut mereka terdapat 3 jenis subkultur tipe gang kenakalan remaja, yaitu :
a. Criminal Subculture, bilamana masyarakat secara penuh berintegrasi, gang akan berlaku sebagai kelompok para remaja yang belajar dari orang dewasa
b. Retreatist Subculture, pada tipe ini gang lebih banyak mengutamakan pencarian uang untuk tujuan mabuk-mabukan, mengkonsumsi narkoba dan lain-lain
c. Conflict Subculture, pada masyarakat ini yang tidak terintegrasi akan menyebabkan lemahnya organisasi. Gang tipe ini memperlihatkan perilaku yang bebas seperti kekerasan perampasan dan lain-lain

5. Teori Netralisasi
Teori ini dikembangkan oleh Matza dan Sykes. Menurut teori ini orang yang melakukan perilaku menyimpang disebabkan adanya kecenderungan untuk merasionalkan norma-norma dan nilai-nilai menurut persepsi dan kepentingan mereka sendiri. Penyimpangan perilaku dilakukan dengan cara mengikuti arus perilaku lainnya melalui sebuah proses pembenanan (netralisasi). Berbagai bentuk netralisasi yang muncul antara lain :
a. The denial of responsibility, mereka menganggap dirinya sebagai korban dan tekanan-tekanan social misalnya kurangnya kasih sayang, pergaulan kurang baik
b. The denial of injury, mereka berpandangan bahwa perbuatan yang dilakukan tidak mengakibatkan kerugian besar di masyarakat
c. The denial of victims, mereka biasanya menyebut dirinya sebagai pahlawan
d. Condemnation of the condemnesr, mereka beranggapan bahwa orang yang mengutuk perbuatan mereka adalah orang yang munafik
e. Appeal to higher loyality, mereka beranggapan bahwa dirinya terperangkap antara kemauan masyarakat luas dan hukum dengan kepentingan kelompok minoritas dimana mereka berasal

6. Teori Kontrol
Teori ini beranggapan bahwa individu dalam masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya yakni tidak melakukan penyimpangan perilaku (baik) dan berperilaku menyimpang (tidak baik). Seseorang yang terlepas dari ikatan social dengan masyarakatnya akan cenderung berperilaku bebas untuk melakukan penyimpangan. Manakala dalam masyarakat lembaga control social tidak berfungsi secara maksimal maka akan mengakibatkan melemahnya atau terputusnya ikatan social anggota masyarakat dengan masyarakat secara keseluruhan dan akibatnya anggota masyarakat akan leluasa untuk melakukan perilaku menyimpang.
Teori Labelling
Teori labeling ini pada prinsipnya menyatakan dua hal. Pertama, orang berperilaku normal atau tidak normal, menyimpang atau tidak menyimpang, tergantung pada bagaimana orang-orang lain (orang tua, keluarga, masyarakat) menilainya. Kedua, penilaian itu berubah dari waktu ke waktu, sehingga orang yang hari ini dinyatakan sakit bisa dinyatakan sehat (dengan gejala yang sama) beberapa tahun kemudian, atau sebaliknya.
1. Labelling menurut Lemert
Menurut Edwin M. Lemert, seseorang melakukan penyimpangan dari proses labeling (pemberian julukan/cap) yang diberikan masyarakat kepadanya. Penyimpangan yang dilakukan itu mula-mula berupa penyimpangan primer. Akibatnya si penyimpang di cap sesuai penyimpangan yang dilakukan, seperti pencuri atau penipu. Sebagai tanggapan atas cap tersebut, si penyimpang primer mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi perilaku penyimpangan tersebut, sehingga penyimpangan yang dilakukannya berubah menjadi penyimpangan sekunder.

2. Labelling menurut Mead
Lahirnya teori penjulukan (labeling Theory), diinspirasi oleh perspektif interaksionisme simbolik dari Herbert Mead dan telah berkembang sedemikian rupa dengan riset-riset dan pengujiannya dalam berbagai bidang seperti kriminologi, kesehatan mental (pengidap schizophrenia) dan kesehatan, serta pendidikan. Teori penjulukan dari studi tentang deviant di akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 yang merupakan penolakan terhadap teori consensus atau fungsionalisme structural. Awalnya, menurut teori structural deviant atau penyimpangan dipahami sebagai perilaku yang ada yang merupakan karakter yang berlawanan dengan norma-norma social.

3. Teori labeling Micholowsky
Kejahatan merupakan kualitas dari reaksi masyarakat atas tingkah laku seseorang
Reaksi itu menyebabkan tindakan seseorang dicap sebagai penjahat
Umumnya tingkah laku seseorang dicap jahat menyebabkan orangnya juga diperlakukan sebagai penjahat
Seseorang yang dicap dan diperlakukan sebagai penjahat terjadi dalam proses interaksi, dimana interaksi tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu, antar kelompok dan antar individu dan kelompok
Terdapat kecenderungan dimana seseorang atau kelompok yang dicap sebagai penjahat akan menyesuaikan diri dengan cap yang disandangnya

Dari beberapa penjelasan diatas maka jelas sudah bahwa perkembangan ilmu sosiologi sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kajian sosiologi akan merambah ke segala disiplin ilmu lainnya, ketika ilmu Tersebut telah berkaitan dengan hehidupan social masyarakat. Berbagai kejadian dan fenomena kehidupan masyarakat dapat dikaji dengan disiplin ilmu sosiologi, dari aspek politik, budaya, ekonomi, agama dan lain-lain karena kaitannya dengan masyarakat sebagai kajian utama sosiologi. Eksistensi sosiologi telah diawali oleh pemikiran Emile Durkheim mengenai teori bunuh diri, yaitu individu melakukan bunuh diri bukan berasal dari factor internal individu (Psikologis) melainkan karena factor integrasi dari lingkungan sosialnya.

Sumber :
Soekanto, Soerjono.2007. Sosiologi Suatu Pengantar.jakarta : PT Raja Grafindo
S. Wisni Septiarti, M. si dalam materi kuliah Sosiologi Deviansi Prodi Pendidikan Sosiologi FISE UNY


Responses

  1. thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: