Posted by: SmartSosiologi | December 2, 2010

pasar tradisional VS pasar modern

PASAR TRADISIONAL VS SUPERMARKET

PASAR TRADISUONAL
4 hal paling menonjol dari pasar tradisional adalah: adanya penjual dan pembeli, mereka bertemu disuatu tempat tertentu, terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli, sehingga terjadi jual beli/ tukar-menukar, antara penjual dengan pembeli kedudukannya sederajat. sementara itu yang dianggap selama ini sebagai pasar tradisional oleh masyarakat adalah pasar yang bentuk bangunannya relatif sederhana, dengan suasana yang kurang menyenangkan 9ruang tempat usaha sempit, sarana parkir kurang memadai, kurang menjaga kebersihan pasar, dan penerangan yang kurang baik). Barang yang diperdagangkan adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari, harga barang lebih murah, dan cara pembeliannya dengan sistem tawar menawar. adapun beberapa keunggulan pasar tradisional:
a. adanya kesempatan tawar-menawar, di mana hal ini menyebabkan interaksi antara penjual dengan pembeli sehingga terjadi kedekatan personal/ emosional (sentuhan humanis).
b. masalah kausalitas. kausalitas ini dikaitkan dengan kesegaran bahan makanan, dimana pembeli yang teliti akan mendapat barang dengan kausalitas bagus dan dengan harga yang lebih murah.
c. konsumen akan diberi tahu apabila ada barang baru, di mana pasar tradisional buka lebih pagi bahkan dini hari, dibandingkan dengan pasar tradisional.
d. konsumen akan cepat mengetahui perubahan harga, di mana konsumen dengan cepat membandingkan harga barang antara penjual yang satu dengan penjual yang lain.
beberapa keunggulan yang dimiliki pasar tradisional menjadikan pasar tradisioanal tidak hanya merupakan tempat terjadinya transaksi antara penjual dengan pembeli. dalam pasar tradisioanl akan dapat ditemukan jaringan sosial yang diartikan sebagai suatu pertimbangan dalam pembentukan harga atau sebagai pertimbangan dalam memberikan tips sehingga konsumen tetap setia berlangganan (hal 36-37).
ketika konsumen berbelanja di pasar tradisional, pedagang tidak hanya sekedar menjual barang dagangan, tetapi juga terjadi pembicaraan yang intens dan pemberian saran pemanfaatan barang yang dibutuhkan konsumen, sehingga terjadi kedekatan secara personal dan membuat konsumen percaya terhadap pedagang tersebut untuk tetap berlangganan. selain itu, harga dimaknai sebagai suatau hal yang fleksibel dan determinan terhadap konteks sosial antara pedagang dan konsumen.
secara sosio-ekonomi, apsar adalah manifestasi dari sistem ekonomi rakyat. apabila dipandang dari sudut sosial, pasar tradisional dimaknai sebagai wadah bertemunya masyarakat yang memiliki budaya homogen, yang kemudian dipertemukan oleh kepentingan ekonomi. dengan adanya kondisi ini, akan mendorong lahirnya moral ekonomi dan pola interaksi yang determinan dengan budaya yang dipersepsikan oleh masyarakat.

PASAR MODERN
yaitu pasar yang penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung, melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode) dan pelayanannya dilakuakn secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. barang-barang yang dijual di pasar modern, selain bahan makanan juga terdapat barang lain yang merupakan jenis barang yang dapat bertahan lama. beberapa jenis pasar modern antara lan hipermarket, supermarket, mal dll.
mal pertamakali dipopulerkan oleh Victor Graen. ia mengenalkan shopping mall yang pertama di Edina, negara bagian Minnesota AS tahun 1956. mal ini di desain sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjadi sebuah tempat belanja, tetapi juga mneyediakan pusat interaksi, menawarkan komunitas alternatif, hiburan dan bahkan pencerahan. adapun fungsi mal sekarang tidak hanya sebagai sebuah arena transaksi jual beli, tetapi juga sebagai tempat akulturasi, tempat belajar, tempat berguru, tempat mencari nilai-nilai, tempat membangun citra diri, tempat merumuskan eksistensi diri, serta tempat pencarian makna hidup.
dengan kata lain, mal dapat dikatakan sebagai surga bagi konsumerisme. hal ini terjadi karena kegiatan belanja tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai hiburan. konsep mal yang menyediakan berbagai jenis barang konsumsi, menyebabkan timbulnya keinginan untuk membeli. di sini terdapat pergeseran dari apa yang mereka butuhkan menjadi apa yang mereka inginkan. mal tampak dapat memenuhi kepuasan perilaku konsumen masyarakat secara langsung, namun pada saat yang sama mampu menyembunyikan keharusan sosial yang tersembunyi, di mana ketika seseorang membeli suatu aksesoris yang sangat identik dengan gaya remaja, maka ia harus bergaya seperti remaja.
pengalaman berbelanja di mal menciptakan suasana “pseudocommunitas”, yaitu rasa kebersamaan sebagai suatu komunitas yang mungkin saja telah hilang dalam dunia yang sesungguhnya. dalam suatu mal diciptakan suatu kondisi yang penuh dengan hiburan dan keceriaan, sehingga ketika individu masuk di dalamnya secara tidak langsung dapat terpengaruh dengan kondisi tersebut dan menjadi bagian dari suatu komunitas yang ada di dalam mal. mereka menjadi bagian dari budaya konsumen dan mulai mengambil bagian dalam suatu hal yang nyata, padahal dapat dikatakan bahwa pengalaman tersebut tidak seutuhnya nyata bagi para perilaku belanja (konsumen) (hal 39-42).

SUMBER: Ifaty Fadliliana Sari. 2009. Perubahan Perilaku Belanja Masyarakat pada Pasar Tradisional Pasca Berdirinya Solo Grand Mall di Kelurahan Penumping Surakarta. Skripsi. UNY Yogyakarta.

pasar tradisional merupakan warisan dari nenek moyang, dimana pasar tradisional merupakan perkembangan dari adanya barter (tukar-menukar barang) pada zaman dahulu.  dari pasar tradisional, terjadi interaksi sosial yang intens antar komponen pasar, yaitu pedagang, penjual. maupun pengelola pasar itu sendiri. bentuk interaksi sosial ini pun bermacam-macam, mulai dari proses tawar-menawar barang antara penjual dan pembeli, kemudian tukar-menukar uang untuk kembali antar sesama penjual dll, yang menyebabkan hubungan atau jaringan sosial satu sama lain menjadi erat.

penjual melayani sendiri pembeli yang membeli barang dagangannya, mendengarkan keluhan, dan mengatasi solusinya.  sehingga tak jarang pula, antara penjual dan penjual, serta penjual dan pembeli terjalin hubungan sosial yang intim, dan dapat membentuk sebuah paguyuban, dan keluarga.

tetapi kini pasar tradisional mulai termarginalkan dari tumbuhnya mall, supermarket dll. berkembangnya mall dll tidak lepas dari adanya dampak globalisasi di negara timur seperti Indonesia. adanya supermarket yang menjamin efisiensi waktu dan tenaga, karena semua kebutuhan hidup telah tersedia di satu tempat, dan kita tidak perlu beranjak ke mana-mana. di situ telah ada sebuah sistem baru, yaitu efisiensi, yakni pihak penjual (pengelola supermarket) berusaha seefisien mungkin untuk memanfaatkan tenaga pekerja, para pekerja tidak perlu mengambilkan barang-barang pembeli seperti di pasar tradisional, melainkan pembeli memilih dan mengambil sendiri barang belanjaannya, sehingga tercipta efisiensi tenaga dan tidak memerlukan banyak tenaga pekerja.

tetapi dampak negatifnya adalah, dalam proses jual-beli di pasar tradisional. tidak terjadi interaksi sosial yang intens antara penjual, pembeli, dan pihak pengelola, karena mereka sudah tidak perlu lagi tawar-menawar harga dengan penjual, karena sudah ada patokan harga.

hal ini tentu saja menhkhawatirkan keberadaan pasar tradisional, mengingat orang sekarang lebih memilih sesuatu yang lebih efisien.

 


Responses

  1. neng sasi..saat mongin pasar tradisional Vs modern sepertinya ini bagaikan dua sisi mata uang logam.heheh dilematis sekali y…
    tp menurut saya kehadiran pasar modern tidak hanya membawa dampak negatif bagi kelangsungan pasar tradisional.y…perlu dilihat pula bahwa kehadiran pasar modern yang mungkin berupa supermarket sangat embantu mereka yang hidup dalam kondisi serba sibuk dan mengedpankan keefektifan waktu dan tenaga. dari sisi psar tradisional juga sebenarnya bisa mengadopsi sistem kerja pasar ini yang sangat terstruktur.y ora…???

    • bener sekali saudara yuni,,
      dalam pasar tradisional pun ada salah satu konsep Mcdonaldisasi, yaitu efisiensi…

  2. berbelanja itu pilihan, kita mau murah y monggo ke pasar tradisional ..
    tp kalo mau yg praktis dan bersih dan ekselent y ke pasar modern ..
    y gag sas?
    hahaha ..

  3. iya setuju untuk kakak ninda,,
    tapi bagaimana jika pasar modern telah mengambil peran lebih dominan di masyarakat, dan pasar tradisional mulai tergeser,,
    terkait dengan salah satu aspek globalisasi, yaitu homogenisasi di segala bidang…

  4. Sip,…..

  5. memang skarang banyak orang, terutama para muda-mudi ngrasa malu kalo hrs ke pasar tradisional n mrka lebih milih ke mall kalo maw blanjaa.
    tp pasar tradisional punya kesan tersendirii loowh…
    di pasar tradisional qta bsa belajar ilmu ekonomii yaitu “menawar”.
    hiihihihiii

  6. bagaimana cara menumbuhkan minat masyarakat supaya lebih tertari buat berbelanja k’pasar tradisional…yak????

  7. iya benar sejali mba endang,,ada prestise tersendiri kalo kita berbelanja di mall,
    ketika kita berbelanja di apsar tradisional, kita bisa menerapkan prinsip ekonomi, yaitu mengeluarkan biaya yang sedikit2nya untuk mendapatkan hasil yang sebesar2nya, salah satunya dengan cara menawar seperti yang dikatakan mba endang tadi…….

  8. yukz Qt k pasar tradisional yar dpt bersaing dgn pasar modern,,, buktikan pasar tradisional ta’ kalah dgn pasar modern…hehee

  9. jgn sampe pasar tradisional tersaingi pasar modern,,pasar tradisional tempat belanja yg murah meriah,,hehe

  10. @rohati, iya setuju sekalii, di pasar tradisional kan bisa lebih murah, kan bisa menawar,,,

    @yunia. ho.oh,, ayo kita berbondong2 belanja di pasar bantul, wkwkwkw

  11. @untuk mba ade, terkait dengan bagaimana cara menumbuhkan minat masyarakat untuk belanja di pasar tradisional,,,
    sebenarnya jika diamati, pasar tradisional dan pasar modern seperti hypermart telah mempunyai “pelanggan” masing-masing di kalangan masyarakat,, dari status sosial seseorang juga dapat menjadi faktor penentu ke mana ia akan belanja, walaupun memang tidak sepenuhnya.
    kurangnya minat belanja di pasar tradisional bisa dipengaruhi oelh kondisi pasar tradisional yang dirasa kurang efektif, dengan tingkat kebersihan yang kurang, serta tata letaknya yang kurang menarik. dalam hal ini, peran pemerintah daerah di mana pasar tersebut berada juga penting, bagaimana pemerintah dapat merubag paradigma tentang pasar tradisional yang kesannya kotor dan tidak teratur, menjadi pasar tradisional dengan kondisi seperti pasar modern tetapi dengan suasana dan keadaan seperti pasar tradisional tentunya, misalkan dengan memperhatikan kebersihan pasar, menata tata letak penjual dengan baik, keamanan yang terjaga, dengan keadaan seperti ini tentulah pengunjung dapat merasa nyaman dan tertarik untuk belanja ke pasar tradisional…
    begitu mba ade, pripun, ada tanggapan???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: